Pendidikan Multikultural Sebagai Alternatif Pendidikan Nasional (1)

Menggagas Konsep Pendidikan Yang “Memanusiakan Manusia”

Kata Pengantar

Pendidikan merupakan permasalahan yang krusial bagi negara sedang berkembang seperti Negara Indonesia. Pendidikan tidak lagi menjadi the second choice bagi sebagian besar masyarakat Indonesia tetapi pendidikan (baca: sekolah) telah mampu mensejajarkan dirinya dengan kebutuhan dasar manusia lainnya di era globalisasi ini. Makna pendidikan dinyatakan dalam kata-kata tarbiyah, yang artinya ‘meningkatkan’ atau ‘membuat sesuatu lebih tinggi’, pendidikan menurut Al-Qur’an mengandung pra-anggapan bahwa dalam diri manusia terdapat bibit-bibit kebaikan (Nurcholish Madjid, 2003). Akan tetapi, sejak berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, masalah pendidikan belum dijadikan tema sentral maupun kajian strategis nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dalam upaya mendongkrak daya saing bangsa di mata dunia. Dua tahun silam penelitian tentang kualitas sumber daya manusia di dunia yang diukur dengan Human Development Index (HDI) dipublikasikan oleh UNDP, dari 173 negara di dunia, Indonesia menduduki peringkat ke-109 di bawah Vietnam yang menduduki peringkat ke-108. Suatu kenyataan pahit yang harus diterima oleh bangsa kita, belum lagi peringkat dan gelar yang dengan ‘terpaksa’ harus disandang bangsa Indonesia, mulai dari negara paling korupsi, negara termiskin, negara dengan hutangnya yang melimpah dan lain sebagainya. Sekali lagi suatu kenyataan yang akan bermuara pada permasalahan pendidikan di negara kita.

Pendidikan yang memadai bagi segenap lapisan masyarakat sudah menjadi suatu keniscayaan untuk membangun sistem berbangsa dan bernegara yang sehat dan dinamis. Pendidikan sebagai ruh dalam proses pembangunan manusia seutuhnya mulai dikesampingkan dan ditinggalkan, lembaga pendidikan atau sekolah saat ini telah kehilangan jati dirinya sebagai lembaga pendidikan yang sebenarnya, lembaga ini tidak jarang menghasilkan pemimpin yang korupsi, intelektual yang penipu bahkan sekolah mulai dijadikan ajang ‘prostitusi’. Suatu keadaan dimana rasa malu bukan lagi menjadi suatu hambatan, bahkan menjadi pendorong terciptanya komersialisasi pendidikan yang menggurita.

Keprihatinan atas dunia pendidikan di negara kita cukup dirasakan oleh masyarakat Indonesia, terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Betapa tidak, lembaga-lembaga pendidikan berlomba-lomba menaikkan prestasi kognitif intelektual para siswanya semata-mata hanya untuk menaikkan prestice sekolahnya di mata masyarakat kemudian dijual kepada mereka, maka tak ayal lagi biaya pendidikan akan melambung dengan tinggi tanpa memperhatikan rasa keadilan bagi masyarakat. Akibatnya sekolah-sekolah akan diisi oleh orang-orang kaya dan penguasa atau orang yang mempunyai akses kepada mereka, dengan demikian sekolah menjadi agen kapitalisme dengan memperlebar pilar kesenjangan sosial dan memberlakukan hukum rimba dimana yang mempunyai modal, efektif, efisien, dan berkualitas akan survive dan yang lemah akan terlindas dan tersingkirkan.

Keadaan yang sedemikian rupa dialami oleh sebagian masyarakat Indonesia menjadikan kesedihan yang mendalam terhadap diri penulis atas keputusasaan masyarakat terhadap keadaan yang menghimpit di tengah krisis yang multidimensional ini. Karya yang sebagian besar diilhami oleh Dr. Ainurrofiq Dawam, M.A. dalam bukunya ‘Emoh Sekolah’ Menolak “Komersialisasi Pendidikan” dan “Kanibalisme Intelektual”, Menuju Pendidikan Multikultural (2003), sebagai refleksi kegelisahan pada diri penulis untuk berbuat sesuatu untuk sistem pendidikan nasional kita.

Yogyakarta, 5 September 2003

Buyung Anjar Purnomo

Students hold on to the side steel bars of a collapsed bridge as they cross a river to get to school at Sanghiang Tanjung village in Lebak regency

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: