Masalah Ekonomi dan Elastisitas (bag.1)

Konsep Dasar Ekonomi

Sebagai makhluk hidup kalian pasti mempunyai kebutuhan, entah itu berupa kebutuhan dasar atau kebutuhan pelengkap lainnya. Seorang psikolog Amerika yang terkenal dengan teori hirarki kebutuhan, Abraham Harold Maslow, membagi kebutuhan manusia menjadi enam tingkatan dalam sebuah piramida kebutuhan. Tingkatan paling bawah merupakan kebutuhan dasar atau fisiologis, kebutuhan ini meliputi kebutuhan makan, minum, bernafas, tidur, dan sebagainya. Setelah itu diikuti kebutuhan akan rasa aman dan ketenteraman, contoh: keamanan saat bepergian, bekerja, dan keamanan lingkungan tempat tinggal.  Tingkat  kebutuhan selanjutnya ialah kebutuhan untuk dicintai dan disayangi, misalnya kebutuhan bersahabat, menjalin hubungan dengan keluarga dan orang lain. Berikutnya merupakan kebutuhan untuk dihargai, contoh: kebutuhan ingin memperoleh peghargaan dan menghargai orang lain, keinginan berprestasi dan lain-lain. Dan yang terakhir ialah kebutuhan untuk beraktualisasi diri, seperti mengembangkan kreatifitas atau memecahkan masalah. Hirarki kebutuhan tersebut dapat dilukiskan dengan gambar berikut.

Setelah kalian memahami teori hirarki kebutuhan Maslow, pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana manusia memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut?. Nah, segala aktivitas maupun tingkah laku manusia dalam memenuhi kebutuhannya dipelajari dalam sebuah ilmu sosial yaitu ilmu ekonomi. Untuk memperjelas ilustrasi di atas simaklah penjelasan berikut.

Masalah Pokok Ekonomi

Apabila ilmu ekonomi merupakan ilmu yang menguraikan perilaku manusia dalam memenuhi kebutuhannya, maka ilmu ekonomi ada sejak manusia dilahirkan di muka bumi. Karena ketika lahir, manusia telah mempunyai kebutuhan yang harus dipenuhi. Selain jumlah, kebutuhan manusia terus berkembang seiring dengan perubahan zaman yang diikuti dengan meningkatnya teknologi, sarana komunikasi, dan globalisasi. Oleh sebab itu muncul permasalahan baru yang dihadapi oleh manusia yaitu ketimpangan antara jumlah kebutuhan dengan ketersediaan sumber daya sebagai pemuas kebutuhan manusia. Alat pemuas kebutuhan manusia yang dimaksud ialah berupa barang atau jasa. Manusia tidak akan mencapai kesejahteraan selama kebutuhannya lebih besar daripada alat pemuas kebutuhan.

kebutuhan > alat pemuas kebutuhan

sedangkan kesejahteraan akan tercapai bila kebutuhan seimbang dengan alat pemuas yang tersedia.

kebutuhan = alat pemuas kebutuhan

Oleh sebab itu sebagian manusia lainnya yang disebut produsen berusaha untuk menyediakan barang atau jasa sebagai alat pemuas kebutuhan manusia. Pertanyaan selanjutnya adalah:

1.     Barang dan jasa apa yang akan dihasilkan (what)?.

2.     Bagaimana menghasilkan barang dan jasa tersebut (how)?.

3.     Untuk siapa barang dan jasa tersebut dibuat (for whom)?.

Inilah masalah pokok ekonomi yang harus dipecahkan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan dengan alat pemuas yang berarti kesejahteraan manusia akan tercapai.

Pengertian Ilmu Ekonomi

Demi mencapai tingkat kesejahteraan yang diinginkan, manusia akan melakukan berbagai usaha untuk memenuhi kebutuhannya dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Yang berarti, sebagai makhluk rasional, manusia akan terdorong melakukan berbagai alternatif pilihan atas sumber daya yang terbatas untuk meraih kepuasan maksimal. Usaha dan tujuan manusia dalam menentukan sumber daya inilah yang dipelajari dalam ilmu ekonomi. Istilah ekonomi sendiri pada awalnya diperkenalkan oleh seorang filsuf Yunani bernama Xenophone (440-355 SM). Ekonomi berasal dari dua penggal kata yaitu Oikos dan Nomos yang berarti pengaturan atau pengelolaan rumah tangga. Rumah tangga dalam arti luas dapat berarti rumah tangga produsen, konsumen, dan pemerintah yang selanjutnya disebut sebagai pelaku ekonomi. Di dalam perkembangannya ahli ekonomi neo klasik mendefinisikan tentang ilmu ekonomi sebagai berikut:

Ilmu ekonomi adalah studi tentang perilaku orang dan masyarakat dalam memilih cara menggunakan sumber daya yang langka dan memiliki beberapa alternatif penggunaan, dalam rangka memproduksi berbagai komoditi, untuk menyalurkannya -baik saat ini maupun di masa depan- kepada berbagai individu dan kelompok yang ada dalam suatu masyarakat. (Paul Samuelson: 2001).

Biaya Peluang (Opportunity Cost)

Akibat terbatasnya sumber daya yang dimiliki, dalam mengambil suatu tindakan alternatif seseorang akan mengorbankan apapun untuk memperoleh atau memproduksi jasa tertentu. Pengorbanan inilah dalam ilmu ekonomi disebut sebagai biaya peluang ( opportunity cost). Biaya peluang dapat ditemukan dalam setiap kondisi dimana harus diambil keputusan akibat adanya kelangkaan untuk memperoleh kepuasan atau hasil maksimal. Perhatikan contoh berikut!.

Seorang lulusan SMK mendaftarkan diri ke Universitas Indonesia dan diterima setelah melalui beberapa tes, disaat bersamaan dia diterima bekerja di perusahaan tekstil dengan gaji Rp 1.500.000,00 per bulan. Apabila ia memutuskan untuk kuliah dan bukan bekerja, maka biaya peluangnya adalah Rp 1.500.000,00 per bulan.

Dari contoh di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa biaya peluang (opportunity cost) adalah biaya kesempatan yang hilang akibat keterbatasan sumber daya.Oleh karena manusia ingin memperoleh kepuasan atau hasil maksimal maka sumber daya ekonomi yang dimiliki harus diberdayakan secara optimal. Biaya peluang tidak hanya terjadi pada individu, tetapi dalam ruang lingkup yang lebih luas dapat terjadi pada rumah tangga produsen maupun rumah tangga pemerintah.

Di dalam rumah tangga produsen yang menghasilkan lebih dari satu komoditas sering dihadapkan pada kemungkinan kombinasi sumber daya untuk menghasilkan output yang maksimal. Sebuah kurva yang menggambarkan berbagai kemungkinan kombinasi maksimum out put (barang dan jasa) yang dapat dihasilkan pada suatu waktu ketika sumber daya dan teknologi digunakan sepenuhnya disebut dengan Kurva Kemungkinan Produksi (Production Posibility Curve). Bentuk kurva berikut menggambarkan keterkaitan biaya peluang dengan kemungkinan produksi.

Penjelasan:

Kurva P menunjukkan batas kemungkinan produksi. Ketika batas kemungkinan produksi berada di titik E, maka produksi obat dapat ditingkatkan dari 7.000 menjadi 12.000 botol dengan menurunkan produksi beras. Pergerakan alternatif produksi di titik E (30.000 ton beras dan 7.000 botol obat) ke titik F (8.000 ton beras dan 12.000 botol obat) menggunakan biaya oportunitas (untuk menambah produksi 5.000 botol obat) sebesar 22.000 ton beras. Titik yang terletak di kurva PPC (titik D, E, dan F) merupakan kemungkinan kombinasi produksi yang dianggap efisien, sedangkan bila terletak di dalam kurva (titik A, B dan C) dianggap tidak efisien karena tidak menggunakan sumber daya sepenuhnya. Apabila di luar kurva (titik E’) maka tidak mungkin tercapai dan hanya akan tercapai seiring dengan bertambahnya sumber daya atau meningkatnya teknologi.

bersambung…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: